8 Larangan Sebagai Anggota Dalmas

Pelaksanaan pengendalian massa satuan dalmas harus dapat mengikuti prosedur yang ada agar tidak melakukan kesalahan. Ada beberapa larangan yang harus diperhatikan oleh satuan dalmas antara lain :

1. Bersikap arogan dan terpancing oleh perilaku massa

Seorang anggota satuan dalmas dilarang bersikap arogan dan terpancing oleh perilaku massa, apabila satuan dalmas bersifat arogan maka akan memancing kemarahan massa dan akibatnya situasi semakin tidak terkendali yang berakibat terjadinya massa anarkis.

2. Penggunaan kekuatan yang tidak sesuai dengan prosedur

Seorang anggota satuan dalmas dilarang menggunakan  kekuatan yang tidak sesuai dengan prosedur.

3. Membawa peralatan di luar peralatan dalmas

Seorang anggota satuan dalmas dilarang membawa peralatan lain di luar peralatan dalmas, sesuai dengan tugas dan kewenangananya serta sesuai alut dan alsus dari dinas, contoh : membawa pisau, membawa benda-banda tajam, handphone.

4. Membawa senjata tajam dan peluru tajam

Seorang anggota sat dalmas dilarang membawa senjata tajam dan peluru tajam karena disamping melanggar ketentuan juga dapat membahayakan orang lain dan dirinya sendiri.

5. Keluar dari ikatan satuan/formasi dan melakukan pengejaran massa secara perorangan

Seorang anggota satuan dalmas dilarang keluar dari ikatan satuan/formasi dan melakukan pengejaran massa secara perorangan.

6. Mundur membelakangi massa pengunjuk rasa

Seorang anggota satuan dalmas saat melakukan gerakan mundur dilarang membelakangi massa pengunjuk rasa karena hal ini akan membahayakan anggota tersebut, maka dalam gerakan mundur satuan dalmas tetap harus menghadap ke massa, sehingga tahu apa yang akan dilakukan oleh massa, sehingga satuan dalmas dapat mengambil tindakan sesuai dengan keadaan.

7. Mengucapkan kata-kata kotor, pelecehan seksual / perbuatan asusila, memaki-maki pengunjuk rasa

Seorang anggota satuan dalmas dilarang mengucapkan kata-kata kotor, pelecehan seksual/perbuatan asusila, memaki-maki pengunjuk rasa karena hal ini akan memancing emosi massa yang dapat berakibat fatal atau massa menjadi anarkis dan juga menambah persoalan yang baru.

8. Melakukan perbuatan lainnya yang melanggar peraturan perundang-undangan

Seorang anggota satuan dalmas dilarang melakukan  perbuatan yang dilarang  atau yang tidak sesuai prosedur.

 

Baca :

Pengertian tentang Dalmas

14 Persyaratan Sebagai Anggota Dalmas

6 Kewajiban Sebagai Anggota Dalmas

6 Kewajiban Sebagai Anggota Dalmas

Agar tidak melakukan pelanggaran, setiap pelaksanaan pengendalian massa harus mengetahui kewajiban-kewajiban yang dilakukan satuan dalmas antara lain :

1. Menghormati hak asasi manusia dari setiap orang yang melakukan unjuk rasa

Setiap anggota satuan dalmas dalam melaksanakan tugas harus menjunjung tinggi HAM, karena dalam unjuk rasa adalah dilindungi oleh undang-undang dan dalam pelaksanaan tugas satuan dalmas harus selalu menjunjung tinggi norma-norma HAM sehingga satuan dalmas dalam bertindak tidak terjadi pelanggaran HAM.

2. Melayani dan mengamankan pengunjuk rasa sesuai ketentuan

Setiap anggota satuan dalmas dalam melaksanakan tugas harus melayani dan mengamankan pengunjuk rasa sesuai ketentuan, karena sesuai dengan tugas kelompok Polri adalah sebagai pelayan masyarakat , jadi satuan dalmas harus melayani setiap pengunjuk rasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

3. Setiap pergerakan pasukan dalmas selalu dalam ikatan satuan dan membentuk formasi sesuai ketentuan

Setiap anggota satuan dalmas dalam melaksanakan tugas harus dalam  setiap pergerakan pasukan dalmas selalu dalam ikatan satuan bukan bergerak sendiri-sendiri, harus tetap dalam formasi oleh karena itu satuan dalmas harus tetap dalam ikatan formasi.

4. Melindungi jiwa dan harta benda

Setiap anggota satuan dalmas dalam melaksanakan tugas harus  melindungi jiwa dan harta benda baik milik pengunjuk rasa atau objek yang diunjuk rasa, karena sudah menjadi kewajiban serta tugas anggota Polri sebagai pelindung masyarakat.

5. Tetap menjaga dan mempertahankan situasi hingga unjuk rasa selesai

Setiap anggota satuan dalmas dalam melaksanakan tugas harus melaksanakan tugas pengamanan mulai tahap persiapan sampai tahap konsolidasi /pengakhiran.

6. Patuh dan taat kepada perintah kepala kesatuan lapangan yang bertanggung jawab sesuai tingkatannya

Setiap anggota satuan dalmas dalam melaksanakan tugas harus patuh dan taat kepada perintah Kepala kesatuan lapangan yang bertanggung jawab sesuai tingkatannya karena satuan  dalmas merupakan pasukan yang bergerak dalam ikatan, maka ketaatan dan kepatuhan akan sangat penting guna menunjang pelaksanaan tugas di lapangan.

 

Baca :

Pengertian tentang Dalmas

Larangan sebagai anggota Dalmas

14 Persyaratan sebagai anggota Dalmas

 

14 Persyaratan yang Harus Dimiliki Anggota Dalmas

Sebagai seorang anggota Polri khususnya Dalmas, tidaklah mudah dalam melaksanakan tugas agar sesuai dengan prosedur dan hukum yang berlaku. Berikut beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh satuan dalmas antara lain :

1. Mental dan moral yang baik

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan mental moral yang baik sehingga dalam pelaksanaan tugas pengamanan unjuk rasa akan terhindar dari perbuatan yang tercela, contoh: anggota dalmas dilarang mengeluarkan kata-kata kotor dll, dengan cara pembinaan mental secara rutin satuan Dalmas akan mempunyai mental yang baik.

2. Keteguhan hati dan loyalitas tinggi

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan keteguhan hati dan loyalitas tinggi sehingga dalam pelaksanaan tugas pengamanan unjuk rasa tidak    mudah menyerah dengan keadaan dan juga tetap loyal pada kepentingan dinas dengan prinsip sebagai seorang satuan dalmas yang tunduk atas perintah.

3. Dedikasi dan disiplin yang tinggi

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan dedikasi dan disiplin yang tinggi dikarenakan pasukan Dalmas senantiasa berhadapan dengan massa yang berasal dari berbagai latar belakang sehingga memerlukan dedikasi dalam tugas dan disiplin yang tinggi karena apabila salah dalam bertindak karena kurangnya dedikasi maka akan berhadapan dengan pelanggaran yang menjurus pada salah prosedur dll.

4. Nilai kesamaptaan jasmani paling rendah 65

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan dengan nilai kesamaptaan yang minimal 65 , berarti seorang anggota satuan dalmas diperlukan fisik yang prima dikarenakan pasukan dalmas memerlukan kekuatan fisik yang prima dalam pelaksanaan pengamanan unjuk rasa.

5. Penguasaan terhadap peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pengendalian massa

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan Perkap No.16 tahun 2006, Kep Dir Samapta Polri 62/VII/2007, Protap No.01/V/2004, Perkap No.1 tahun 2009 guna menunjang pelaksanaan tugas, sehingga tidak terjadi salah prosedur dan juga salah dalam pelaksanaan tugas. Dengan jalan sering diberikan pelatihan dan juga wawasan tentang undang undang yang berkaitan dengan kegiatan Dalmas.

6. Mampu bekerja sama secara tim

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan kerjasama tim, karena dalam gerakan  dalmas bukan gerakan perorangan tetapi merupakan kerjasama sebuah tim yang terbentuk dalam suatu formasi dalmas.

7. Sikap netral

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan sikap netral dalam pelaksanaan tugas, dalam artian satuan dalmas tidak boleh memihak kepada sesuatu golongan tetapi tetap netral melaksanakan tugas sesuai dengan tugas kelompokok fungsi dan peranannya, sehingga dalam pelasanaan tugas berjalan dengan lancar.

8. Kemampuan bela diri

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan kemampuan beladiri, dikarenakan satuan dalmas dalam pelaksanaan tugas tidak jarang harus berhadapan dengan massa yang anarkis, dengan begitu setiap anggota wajib menguasai teknik bela diri guna mendukung pelaksanaan tugas di lapangan, dengan cara latihan rutin seperti beladiri dan penggunaan tongkat  ”T”.

9. Kemampuan dalam menggunakan peralatan dalmas

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan Kemampuan dalam menggunakan peralatan dalmas, ini sangat penting karena hal itu merupakan kelengkapan perorangan maupun pasukan dalam kegiatan pengamanan unjuk rasa, dengan menguasai peralatan dalmas maka akan menunjang pelaksanaan pengamanan unjuk rasa, dengan cara latihan secara rutin tentang penggunaan alat khusus maupun alat utama dalmas.

10. Kemampuan membentuk/mengubah formasi dengan cepat

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan kemampuan membentuk/mengubah formasi dengan cepat yang diperlukan dalam mengantisipasi perubahan/eskalasi massa dari damai ke anarkis, sehingga akan menunjang pelaksanaan tugas, dengan cara latihan secara rutin formasi–formasi dari berbagai jenis latihan

11. Kemampuan menilai karakteristik massa secara umum

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan kemampuan menilai karakteristik massa secara umum sesuai eskalasi, guna pengamanan secara profesional dengan mengenal sifat dan karekteristik massa akan lebih mudah dalam berkomunikasi dan pengendalian massa.

12. Kemampuan berkomunikasi dengan baik

Sebagai seorang angota dalmas diperlukan kemampuan berkomunikasi dengan baik guna mempermudah dalam komunikasi dengan massa maupun dengan satuan lain guna menghindarkan salah pengertian dalam komunikasi, sehingga terjadi dialog atau komunikasi yang baik antara petugas dan massa atau sebaliknya.

13. Kemampuan menggunakan kendaraan taktis pengurai massa dan alat khusus dalmas lainnya dengan baik

Sebagai satuan dalmas diperlukan  kemampuan menggunakan kendaraan taktis (rantis) pengurai massa dan alat khusus Dalmas lainnya dengan baik dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas lebih khusus lagi untuk menghadapi massa yang anarkis , dengan menguasai alsus rantis maka akan mendukung dalam pelaksanaan tugas di lapangan.

14. Kemampuan naik-turun kendaraan dengan tertib dan kecepatan berkumpul

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan  kemampuan naik-turun kendaraan dengan tertib dan kecepatan berkumpul sangat penting dalam satuan dalmas, pada pelaksanaan di lapangan diperlukan kecepatan bertindak dan berkumpul dengan jalan naik dan turun kendaraan kemudian langsung membentuk formasi, maka akan mendukung pelaksanaan tugas di lapangan.

 

Baca :

  1. Pengertian tentang Dalmas
  2. Kewajiban Sebagai Anggota Dalmas
  3. Larangan Sebagai Anggota Dalmas

 

Pengertian tentang Dalmas (Pengendalian Massa)

Pengendalian Massa (Dalmas)

Pengendalian massa yang selanjutnya disebut dalmas adalah kegiatan yang dilakukan oleh satuan Polri (kompi,peleton) dalam rangka menghadapi massa pengunjuk rasa.

Dalmas Awal

Dalmas awal adalah satuan dalmas yang tidak dilengkapi dengan alat-alat perlengkapan khusus kepolisian, digerakkan dalam menghadapi kondisi massa masih tertib dan teratur/situasi hijau.

Dalmas Lanjut

Dalmas lanjut adalah satuan dalmas yang dilengkapi dengan alat-alat perlengkapan khusus kepolisian, digerakkan dalam menghadapi kondisi massa sudah tidak tertib/situasi kuning.

Lapis Ganti

Lapis ganti adalah kegiatan peralihan kendali dari satuan dalmas awal ke dalmas Lanjut.

Lintas Ganti

Lintas ganti adalah kegiatan peralihan kendali dari satuan kompi dalmas Lanjut kepada satuan kompi/detasemen penanggulangan huru-hara brimob.

Negosiator

Negosiator adalah anggota Polri yang melaksanakan perundingan melalui tawar-menawar dengan massa pengunjuk rasa untuk mendapatkan kesepakatan bersama.

Penanggulangan Huru-hara

Penanggulangan huru-hara yang selanjutnya disebut PHH adalah rangkaian kegiatan atau proses/cara dalam mengantisipasi atau menghadapi terjadinya kerusuhan massa atau huru-hara guna melindungi warga masyarakat dari ekses yang ditimbulkan.

 

 

 

Baca :

Pesyaratan yang harus dimiliki oleh anggota Dalmas

6 Kewajiban Sebagai Anggota Dalmas

8 Larangan Sebagai Anggota Dalmas

Self Improvement~

Bagaimana saya menyebut diri improved?

Sebenarnya ini terkesan dramatis dalam mencari apa arti sebuah kehidupan, tentang bagaimana kita bergaul pada lingkungan, orang-orang atau masyarakat sekitar, dan tentunya bagaimana kita memahami paradigma kehidupan yang saling berkaitan dan bertimbal balik…

Hukum Sebab Akibat…

Mungkin sebagian besar dari manusia (termasuk saya) akan baru mencoba memperbaiki diri dan belajar memahami apabila telah menerima akibat yang kita sadari atau tidak datang dari sebab yang telah kita perbuat…

Tidak hanya itu, bahkan ada juga yang mendapatkan akibat untuk kesekian kalianya pada konteks hal yang sama hanya karena tidak mengetahui bahwa akibat itu datang dari sebab perbuatan terdahulu dan 100% tanggung jawab perbuatan yang telah kita lakukan…

Apakah saya harus jatuh pada lobang yang sama???

Atas dasar pemikiran inilah, saya mencoba untuk memperbaiki diri dalam beberapa aspek kehidupan, baik atas dasar pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain…

Saya memahami bahwa perubahan memang harus terjadi. Kita tidak mau stuck hanya pada satu keadaan yang kita sebut sebagai Zona Nyaman

Keluar dari zona nyaman, bertemu dengan orang-orang baru, mempelajari hal-hal baru, dan tentunya tidak lupa untuk menyebarkan feed back positive. Itulah yang saya sebut sebagai Self-Improvement

Masalah goals atau tidaknya, semua tergantung kualitas dan kuantitas tindakan yang kita lakukan….

Spread the Love and Be Positive 😉

 

Terimakasih atas waktunya…

Salam Hangat,

Dedek Buana

 

 

 

KEDEPAN, POLRI AKAN SEMAKIN BAIK ~

Tulisan ini bertajuk pada opini tentang Improvement Polri yang harus dimulai dari diri sendiri. wawancara eksklusif dengan Bpk. Brigadir Polisi Arthur Hurulean seorang Bhabinkamtibmas berprestasi dari Polres Maluku tenggara, Kepulauan Kei, Polda Maluku yang Awal tahun kemarin telah mendapatkan penghargaan dari Presiden dan Kapolri karena melaksanakan tugas dengan ikhlas…

“Percayalah,…Polri kedepan akan semakin baik dek…”

Terlintas di pikiran bahwa semangat seperti ini yang akan menjadikan Institusi Polri menjadi semakin baik dalam mencapai tujuan nasional…

Apakah hanya dengan kata-kata mutiara saja?? atau Quotes penggairah semangat??

Tentu saja tidak, kita bisa lakukan dari hal-hal kecil yang bahkan tidak terlihat secara visual di masyarakat… Intinya mulailah reformasi ini dari diri sendiri… hilangkan image masyarakat tentang Polri yang semakin buruk…. Tunjukan kinerja kita bahwa kita mampu mengemban tugas mulia ini dengan baik…

Kita berbicara Organisasi Polri bisa dianalogikan seperti Tubuh Manusia dimana dari saraf otak kepala akan menyalurkan perintah kepada seluruh anggota tubuh…

Semua saling membutuhkan dan berkaitan…

Tidak ada fungsi organ dalam tubuh yang bisa melaksanakan seluruh kegiatan yang kita perlukan dengan sempurna. Singkatnya setiap komponen ini saling membutuhkan… Tangan kanan membutuhkan tangan kiri, tubuh membutuhkan kedua kaki, Telinga, Mata, dll….

Organisasi Polri terdiri dari berbagai pengemban fungsi yang tugas pokoknya tentu saja berbeda….

Kita menjadi Anggota Polri tidak harus menjadi seorang penyidik, tidak selalu kesuksesan berada pada fungsi Reskrim yang dalam hal ini mengemban fungsi represif….

Coba dibayangkan seorang Bhabinkamtibmas mengemban salah satu tugas Pre-emtif akan menjadi ujung tombak pertama apakah Fungsi lain akan bekerja atau tidak…., Bhabin menyatu dengan masyarakat, kesuksesan kita disini (dihati)….

Tugas Pre-emtif yang dilakukan seorang Bhabinkamtibmas akan menjadi pintu gerbang antara Polri dan Masyarakat dalam menjalin hubungan sebagai teman, bahkan sebagai keluarga, sehingga dapat memperoleh kepercayaan serta partisipasi masyarakat…

Setiap Anggota Polri pengemban Polmas

Semua satuan tugas Polri baik satuan Reskrim, Lantas, Intel, Sabhara dan Juga Binmas adalah pengemban Polmas dimana pemahamannya Polmas merupakan strategi untuk menyampaikan serta mengingatkan bahwa masyarakat memiliki peran yang besar dalam menciptakan keamanan dan ketertiban yang optimal…

Di lingkungan masyarakat tidak akan tahu atau peduli tentang kita Polri fungsi reskrim, Binmas, Sabhara, dll…. Yang masyarakat tahu adalah Polisi. Polisi sebagai Pelindung, Pengayom, dan Pelayan Masyarakat. Yang kita wakilkan bukan fungsi kita masing-masing tapi Negara dan seluruh POLRI di Indonesia. Mulai tindakan persuasif dengan lingkungan sekitar, berikan feed back positif, luncurkan respon yang baik…

Mungkin dari hal-hal kecil ini kita akan mengerti tentang apa arti kesuksesan yang sebenarnya dalam tubuh Polri, semua saling berkaitan, Masyarakat, Hukum, Negara….

Berbuat baik dari diri sendiri, bekerja dengan ikhlas, tentunya memperhatikan akuntabilitas, serta tujuan nasional kita…

“Kedepan, Polri Akan Semakin Baik”

 

Terimakasih atas waktunya…

Salam Hangat,

Dedek Buana

 

 

Pendidikan Pengembangan Spesialis Bintara Tipiring 2017 [Great Experience]

Foto bersama Dikbangspes Ba Tipiring 2017

4 Juli 2017, tanggal dibuka pendidikan pengembangan spesialis Bintara Tindak Pidana Ringan (Tipiring) Gelombang IV Tahun 2017 di Pusdik Sabhara Polri, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

Saya (I Made Dedek Buana) perwakilan dari Polda Bali bersama 1 orang leting Agung Wahana mengambil kesempata baik ini untuk mengikuti pendidikan

Pada Gelombang IV Tahun 2017 ini Pusdik Sabhara Polri memiliki 3 Jurusan Pendidikan yaitu :

  1. Pendidikan Pengembangan Spesialis Perwira Pertama Bansar (Bantuan SAR);

  2. Pendidikan Pengembangan Spesialis Bintara Bansar (Bantuan SAR); dan

  3. Pendidikan Pengembangan Spesialis Bintara Tipiring (Tindak Pidana Ringan).

Berangkat dari Polda Bali bersama 2 orang Perwira (Pak Made dan Pak Nyoman ) yang akan mengikuti Pendidikan Pama Bansar, dan 2 orang Bintara lainnya (Dewa Dede dan Pak Ketut) yang akan mengikuti Pendidikan Bintara Bansar.

Kami 6 orang utusan dari Polda Bali siap untuk melaksanakan tugas pendidikan ini dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Pagi, tanggal 3 Juli 2017 kami tiba di Pusdik Sabhara Polri dan langsung menghadap di Bag Binsis. Belum sampai di Bag Binsis, dari kejauhan terlihat sosok perwira polri (AKP) yang memanggil dengan nada agak keras “We dull, lewat sini” ternyata bapak ini yang kerap disapa dengan nama Papi Eko . Ini bukan galak tapi humor dengan background frontal dan sedikit keras, mungkin ini caranya beliau untuk Get Along mendekatkan diri dengan wajah-wajah baru yang tiap gelombang silih berganti, tapi ketahuilah maksud dari Papi Eko sangat mulia dan baik sekali.

sosok seorang “Papi Eko”

Setelah menghadap dan menyerahkan berkas-berkas administrasi yang diperlukan, kami langsung menuju Barak yang telah disediakan, memilih tempat tidur, merapikan barang-barang bawaan, sambil menunggu peserta lainnya yang masih dalam perjalanan dari daerahnya masing-masing.

Pembukaan Pendidikan 

Tanggal 4 Juli 2017, Upacara pembukaan pendidikan dimulai yang dimuka langsung oleh bapak Kapusdik Sabhara (Bpk. Kombes Pol A. Fahruz Zaman). Kami mulai menyesuaikan dengan lingkungan, dan pastinya mulai berbaur dengan rekan-rekan, para senior, dan junior dari berbagai daerah di Indonesia dari sabang sampai merauke.

Awal pendidikan, kami disuguhkan dengan materi-materi dasar Kepolisian sebagai dasar tahapan awal sebelum masuk ke materi inti Tipiring. Materi dasar tersebut meliputi KUHP, KUHAP, POLMAS, HAM, dll.

Tradisi Pembaretan Pusdik Sabhara

Pada tanggal 8 Juli 2017 kami melaksanakan Tradisi Pembaretan Pusdik Sabhara yang memang menjadi keharusan apabila melaksanakan pendidikan di Lemdik ini. Kami melaksanakan long march dari Pusdika Sabhara menuju Pusdik Brimob dan naik menuju SUMBER TETEK. kira2 sekitar 10 kilometer lebih sampai di sumber tetek.

Okay, setelah tradisi pembaretan ini, kami sudah sah memakai baret dalam setiap kegiatan yang kami lakukan di Pusdik Sabhara ini.

Setelah upacara pembukaan pembaretan, Pusdik Sabhara, 8 Juli 2017
Perjalanan menuju Sumber Tetek, Pusdik Brimob, Watukosek, 8 Juli 2017

Proses Belajar Mengajar

Pada proses belajar mengajar, kami bertemu dengan Gadik2 (Tenaga Pendidik) yang sangat profesional, berpengalaman, dan tentunya baik dalam mentransferkan ilmunya kepada kami. Proses belajar mengajar kami laksanakan sesuai jadwal dari jam 7.00 sampai dengan jam 17.00. Pada proses ini kita akan mulai mengenal satu sama lain, sharing knowledge, pengalaman di daerah masing-masing, dan hambatan serta kendala yang dialami.

Disini kami dapat lebih memahami apa yang seharusnya terjadi dan apa yang terjadi di lapangan ternyata  banyak terdapat ketidak sesuaian, dan hal ini yang kami sebut masalah. Dalam menentukan jalan keluar dari masalah ini kami laksanakan dengan jalan diskusi-diskusi dan sharing dengan mencari literatur dan dasar hukum yang ada.

Secara pribadi, saya mendapatkan banyak hal disini, baik yang menurut saya positif untuk dilaksanakan dan yang negatif untuk dihindari.

Proses Belajar mengajar

Latihan Teknis / Latihan Kerja

Setelah apa yang kami dapatkan dari proses belajar mengajar, dari materi maupun praktek, selanjutnya kami dihadapkan dengan susunan acara Latja/Latnis, dimana kami harus mensimulasikan apa yang telah kami pelajari di Pusdik ini, yaitu penegakkan hukum Tindak Pidana Ringan. Dalam acara Tipiring kami simulasikan dari tindakan Preventif (Pencegahan) sampai pada tindakan Represif (Penindakan). Kami laksanakan Latja/Latnis ini dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa tanggung jawab.

Dimulainya Latja/Latnis ini sebagai pertanda bahwa pendidikan yang kami tempuh sudah mencapai tahap akhir dan dalam waktu dekat akan dilaksanakan penutupan pendidikan.

Penutupan Pendidikan

Tanggal 2 Agustus 2017, Sama dengan upacara pembukaan, upacara penutupan juga dipimpin oleh Bpk. Kapusdik Sabhara didahului dengan pembacaan laporan hasil pelaksanan, pemberian penghargaan bagi lulusan terbaik, dan pastinya palu penutupan yang diketok langsung oleh Kapusdik Sabhara.

Suara ketokan palu sebagai pertanda berakhirnya pendidikan, salaman, tidak lupa dokumentasi terkahir sebelum berpisah dengan rekan-rekan, senior, dan junior satu angkatan pendidikan ini, para Gadik, serta pengasuh yang ada di Pusdik Sabhara.

Kesempatan pendidikan ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya secara pribadi, dimana banyak sekali hal baru yang saya dapatkan dan berguna dalam pelaksanan tugas saya nanti di wilayah.

Upacara Penutupan Pendidikan, 2 Agustus 2017
Black Squads Bintara Tipiring 2017

Terimakasih atas waktunya…

Salam Hangat,

Dedek Buana

 

 

Penyesalan di Belakang

Obrolan singkat di suatu waktu dengan cahaya warm white bola lampu dari salah satu cafe di Denpasar,,,,

Oke Fix, seperti orang bilang “Penyesalan pasti datang belakangan, kalau di awal namanya perencanaan“.

Sepertinya ini memang benar-benar kami  alami, apa itu timbal balik, apa itu feed back, dan tentunya respon yang kita berikan kepada lingkungan sekitar….

Ternyata kami mengetahui respon terdahulu yang tentunya tidak dapat kami ambil dan ulangi kembali itu berdampak besar terhadap apa yang kita alami dan terima saat ini…

Apapun itu, saya bertanggung jawab penuh sebagai bentuk visualisasi dari pengakuan tindakan terdahulu yang telah berlalu….

Namun siapa sangka, terjadi suatu masa dimana Tuhan memberikan kesempatan untuk memilih apakah akan mengulangi dan memperbaiki semua kejadian sebelumnya Atau tetap berjalan dengan koridor Self-Improvement yang saya rencanakan tak lama ini…

Okay, you know your self,….

Buat keputusan dengan menyandingkan harapan dengan kekecewaan…..karena apa? Karena percayalah harapan dengan kekecewaan akan selalu berdampingan secara progresif…

Semakin besar harapan yang kita berikan maka semakin besar resiko kekecewaan yang dapat kita terima begitu juga sebaliknya…..

Saya rasa, saya sudah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Apapun itu, terima tidak terima, baik tidak baik, saya bertanggung jawab atas semuanya, semua resiko yang mungkin terjadi untuk kedepan, semua kekecewaan dan penyesalan yang mungkin akan saya terima,…

Kembali ke diri sendiri, mungkin saat ini saya belum siap untuk hal tersebut…..

Hal yang sangat berpengaruh besar kedepannya apabila terjadi crash….

Zona nyaman???

 Mungkin saya menilai diri sendiri tidak sedang berada di Zona Nyaman ,  Namun dengan keputusan yang saya berikan dapat dikatan saya hanya ingin tetap berada di zona nyaman atas dasar tidak berani mengambil resiko yang lebih besar….

Tentu saja, saya anggap ini merupakan resiko yang lebih besar berdasarkan pola pikir empiris sesuai pengalaman terdahulu….

Mungkin sementara waktu saya harus tetap pada Self-Improvement untuk pribadi yang lebih baik, pemikiran yang lebih luas, dan tentunya kondisi fisik yang lebih sehat….

Tulisan ini memang kurang jelas, tapi ketahuilah banyak rahasia dibalik semua ini….

Terima Kasih atas waktunya…

Salam Hangat,

Dedek Buana

Perlengkapan yang Wajib Dibawa Saat Pendidikan Polisi

 

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi saat saya menempuh pendidikan Polisi di SPN Kupang Nusa Tenggara Timur.

Dalam proses seleksi sebagai seorang anggota Polri kita dihadapkan dengan banyak tahapan seleksi mulai dari tahap pemeriksaan administrasi sampai dengan pantukhir. Nah, apabil kita sudah diterima dan dinyatakan lulus seleksi sebagai anggota Polri, maka tahap yang wajib kita tempuh adalah pendidikan kepolisian sebelum nantinya bertugas efektif sebagai Polisi. Dalam menjalani pendidikan yang kurang lbih 7 bulan [Bintara] maka kita perlu persiapan yang matang, baik itu dari segi mental, fisik, maupun perlengkapan yang harus dibawa.

Nah, berikut saya ctantumkan beberapa perlengkapan yang penting dibawa dan yang tidak boleh dibawa saat pendidikan Polisi berdasarkan pengalaman pribadi:

1. Celana Dalam (CD)

Pada saat masa-masa dasbhara kita akan sangat membutuhkan yang namanya Celana Dalam, dimana pada saat kegiatan pendidikan dasbhara kita full dilapangan dan bermain fisik, maka dari itu celana dalam sangat penting untuk menjaga kesehatan organ intim kita, tentunya kita tidak mau pada saat pendidikan kita malah sakit gara2 tidak ganti celana dalam.

2. Perlengkapan Mandi dan Kebersihan diri lainnya

Stok perlengkapan mandi seperti sabun, odol, sikat gigi, shampo, dan lainnya yang banyak agar kita bisa tenang tanpa memikirkan atau memberatkan teman sebelah kita dalam hal perlengkapan mandi. ohya untuk handuk kita sudah akan dibagikan dari Lembaga Pendidikan jadi harus dipake handuk pembagiannya.

3. Perlengkapan Nyeri Otot / P3k

Obat-obatan seperti obat kembung, nyeri otot, balsem, dan lainnya juga cukup membantu dalam pelaksanaan pendidikan karena apabila kita sehabis kegiatan fisik sebagian besar otot pasti nyeri, nah pada saat istirahat kita bisa saling pijat sama temen sebelah.

4. Perlengkapan Sembahyang

Walaupun tidak wajib, mungkin sebagai tambahan kalian bisa membawa perlengkapan sembahyang karena nantinya akan ada jam-jam pengasuhan untuk menunaikan sembahyang sesuai agama dan kepercayaan kalian masing-masing.

5. Jangan Bawa Jimat

Pada baru masuk Lemdik dan pengecekan maka apa yang kalian bawa dari luar akan difilter oleh pengasuh. Apabila ada kedapatan membawa jimat-jimat kesaktian dari daerah masing-masing maka dengan persuasif akan disuruh untuk membuka/melepaskannya sebelum masuk ke Lemdik. Karena percaya tidak percaya sebagian besar lemdik di Indonesia ada tingkat angkernya masing-masing, Jangan sampai gara-gara kalian bawa jimat dari daerah masing-masing malah berpengaruh pada pendidikan kalian jadi tidak lancar.

6. Uang dan Dompet Dikumpulkan

Saya sarankan berdasarkan pengalaman pribadi, kalian tidak perlu membawa uang banyak-banyak karena tidak ada gunanya, karena saat di lemdik semua kegiatan, semua perlengkapan yang ada dalam diri kalian sudah diatur dan direncanakan oleh pihak lemdik. Uang yang kalian bawa nantinya akan disegel dan dikumpulkan dibawa oleh Bamin masing-masing Kompi.

7. Hal-Hal Yang Diluar Dinas Tidak Perlu Dibawa

Hal-hal yang diluar dinas maksudnya seperti pakaian preman, kalian tidak perlu membawa pakaian preman atau pakaian bebas banyak-banyak karena tidak akan pernah dipakai walaupun pada saat hari libur atau jam IBL. Seperti yang saya cantumkan diatas setiap tindakan kita ada Perdupsis (Peraturan Kehidupan Siswa).

Mungkin itu beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menempuh pendidikan polisi berdasarkan pengalaman saya pribadi saat menempuh pendidikan Polri Tahun 2014 Kemarin di SPN Kupang. Apabila ada tambahan atau kekurangan mungkin bisa coret-coret comment dibawah.

TKS

Semoga Bermanfaat 😉

Pelantikan (29 Desember 2014)

Penyelesaian Sengketa Ketenagakerjaan Sebelum Reformasi

Selama ini kita menggunakan UU no. 12 tahun 1964 tentang PHK dan UU no. 12 tahun 1964 tentang Perselisihan. hampir 40 tahun lebih. Tentunya sulit mengakomodasi berbagai perubahan yang terjadi. Penyelesaian kasus perburuhan selama ini, cenderung berlarut-larut, karena terlalu banyaknya tahapan yang harus dilalui. Malah, berdasarkan catatan Depnakertrans, ada kasus yang memerlukan waktu penyelesaian hingga lima tahun.

UU No. 2 Tahun 2004 dilahirkan karena selain tahapannya akan lebih pendek, juga adanya batasan waktu untuk penyelesaian. Sehingga penyelesaian kasus perburuhan, mulai dari nol hingga keluar putusan kasasi dari MA, maksimal diselesaikan dalam 140 hari. “Lamanya waktu penyelesaian kasus, merupakan salah satu hambatan serius dalam penyelesaian permasalahan perburuhan selama ini. Dalam catatan Sekber Buruh, dalam setahun, kasus yang masuk ke P4P (Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat) jumlahnya mencapai 2.800. Sedangkan di tingkat P4D ada 8.000 kasus. Hal ini sangat berbeda bila kita melihat di Australia dimana hanya ada 5 sampai 10 kasus per tahunnya.

Pada era reformasi tahapan penyelesaian kasus tak lagi menggunakan mekanisme P4D dan P4P. Jika kasus tak selesai melalui perundingan Bipartit dan Tripatit, akan dibawa ke pengadilan khusus yang dinamakan PHI (Pengadilan Hubungan Industrial). Selain itu, dalam tahapan tripartit, PPHI mendorong penyelesaian kasus, dengan menambah alternatif. Cara mediasi yang selama ini dikenal, ditambah dengan cara penyelesaian melalui konsialiasi dan arbritase. Sejalan dengan perkembangan zaman, ternyata tuntutan perkembangan penyelesaian sengketa perburuhan juga memerlukan payung dalam berbagai produk per-Undang-Undangan yang dapat mengantisipasinya.

Sebelum Reformasi dalam pembaharuan perundang-undangan perburuhan dan ketenagakerjaan masalah penyelesaian sengketa buruh masih memakai undang-undang lama antara lain :

  1. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1957 lembaran Negara No. 42 Tahun 1957 tentang penyelesaian perselisihan perburuhan.
  2. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1964 Lembaga Negara No. 93 Tahun 1964 tentang pemutusan hubungan kerja di perusahaan swasta.

Didalam kedua produk Perundang-undangan ini memberikan jalan penyelesaian sengketa buruh lebih di titik beratkan pada musyawarah mufakat antara buruh dan majikan melalui Lembaga Bipartie, dan bila tidak terselesaikan dapat dilanjutkan ke Lembaga Tripartie, dan seterusnya dapat dilanjutkan ke Pengadilan P4D dan P4P.

Semakin kompleksnya permasalahan perburuhan, Undang-undang lama tersebut tidak dapat lagi memberikan jalan keluar dalam menyelesaikan sengketa perburuhan, sehingga di undangkanlah Undang-undang lain seperti Undang-undang Hak Azasi Manusia No. 39 Tahun 1999, Undang-undang Serikat Pekerja No.21 Tahun 2000, dan Undang-undang penyelesaian perselisihan Industrial No. 2 Tahun 2004.